Rabu, 04 Januari 2012

Afiksasi dan Reduplikasi Bahasa Jawa dalam Lagu Daerah Jawa Tengah







Tugas : MK. Morfologi
Dosen : I Wayan Simpen


Afiksasi dan Reduplikasi Bahasa Jawa dalam Lagu Daerah Jawa Tengah



aaaaaUDAYANA










Oleh :

FEBY ARY BUDISANY PUTRI (1001105001)




SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS UDAYANA
 2011/2012

BAB 1
PENDAHULUAN

Salah satu kajian dalam studi kebahasaan adalah morfologi. Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik (Ramlan, 1987:17). Menurut Haspelmath (2002:1), morfologi adalah suatu studi tentang struktur internal kata.
Menurut Kridalaksana (2009:10), morfologi dapat dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata. Dalam proses perubahan leksem menjadi kata, ada beberapa proses yang dapat terjadi, proses yang disebut sebagai proses morfologis, yaitu afiksasi, reduplikasi, komposisi (perpaduan), abreviasi (pemendekan), derivasi balik, dan derivasi zero.
Berdasarkan uraian di atas, hal yang dibahas dalam makalah ini adalah afiksasi dan reduplikasi bahasa Jawa dalam Lagu daerah Jawa Tengah. Dalam menganalisis afiksasi tersebut peneliti menggunakan metode kualitatif. Dalam hal ini, peneliti mendeskripsikan jenis-jenis afiks dalam bahasa Jawa. Data penelitian diperoleh dari situs internet. Sumber data yang dianalisis adalah lagu-lagu daerah Jawa Tengah yang diperoleh dari internet dengan berbagai judul yaitu: Gek Kepriye, Gambang Suling, Gundhul pacul, Lir-ilir, Jamuran, Bapak Pucung.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teori yang berkaitan dengan proses morfologis khususnya reduplikasi dan afiksasi, yaitu afiks, derivasi, infleksi.
1.Afiks
Terdapat beberapa penjelasan tentang afiks yang dapat ditemukan. Afiks adalah bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 2008:3). Menurut Fromkin dan Rodman (1998: 519), afiks adalah morfem terikat yang dilekatkan pada morfem dasar atau akar. Selain itu, afiks juga diartikan sebagai suatu morfem yang hanya muncul pada saat dilekatkan pada morfem yang lain (Katamba, 1994:44).
Afiks sebagai morfem terikat, dibagi menjadi dua kelompok yaitu morfem infleksional dan morfem derivasional. Kedua jenis morfem tersebut membentuk kata dengan cara yang berbeda. Morfem derivasional membentuk kata dengan mengubah makna kata dasar serta mengubah kelas kata dari kata dasar. Berbeda dengan morfem derivasional, morfem infleksional membentuk kata dengan tanpa mengubah makna kata dasar dan tanpa mengubah kelas kata dari kata dasar.
Fromkin dan Rodman (1998:71-73) menjelaskan bahwa ada empat jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, infiks, dan sirkumfiks. pandangan yang berbeda mengenai jenis-jenis afiks disebutkan oleh Kridalaksana. Dalam bahasa Jawa, Poedjosoedarmo, dkk. (1979:186) menyebutkan ada empat jenis afiks, yaitu prefiks, infiks, sufiks, dan simulfiks.
2.Derivasi dan Infleksi
Menurut Kridalaksana (2008:47), derivasi adalah proses pengimbuhan afiks non inflektif pada dasar untuk membentuk kata. Sedangkan infleksi merupakan perubahan bentuk kata yang menunjukkan berbagai hubungan gramatikal; mencakup deklinasi nomina, pronominal, dan ajektiva, dan konjugasi verba (Kridalaksana, 2008:93).
Katamba (1994:92-100) menjelaskan bahwa infleksi berbeda dengan derivasi. Infleksi berkaitan dengan kaidah-kaidah sintaktik yang dapat diramalkan (predictable), otomatis (automatic), sistematik, bersifat tetap/konsisten, dan tidak mengubah identitas leksikal. Sedangkan derivasi lebih bersifat tidak dapat diramalkan, berdasarkan kaidah sintaktik, tidak otomatis, tidak bersifat sistematik, bersifat optional, serta mengubah identitas leksikal.
Matthews (1974:38) menyatakan bahwa infleksi adalah bentuk-bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang sama, sedangkan derivasi adalah bentuk kata yang berbeda dari paradigm yang berbeda. penjelasan lain mengenai derivasi dan infleksi juga diberikan oleh Bauer. Derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru, sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama (Bauer, 1988:12-13).
Berkaitan dengan infleksi dan derivasi, Katamba (1994:45) meyebutkan bahwa ada dua jenis afiks yang dapat dilekatkan pada base yaitu afiks infleksional, afiks infleksional digunakan untuk alasan sintaktik, dan afiks derivasional, afiks yang mengubah makna atau kategori gramatikal dari base.
3.Reduplikasi
Ada beberapa pengertian reduplikasi menurut berbagai pakar kebahasaan, yaitu:
Perulangan adalah salah satu proses pembentukan yang dilakukan dengan cara mengulang sebagian atau seluruh bentuk dasar. (Simpen,2009).
Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. (Soedjito,1995:109).
Proses pengulangan atau reduplikasi ialah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. (Ramlan,1985:57).
Pengulangan ialah proses perulangan bentuk dasar baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. (Soepeno,1982:20).
Proses reduplikasi ini menghasilkan kata ulang, dan kata ulang ini mempunyai ciri-ciri tersendiri yang bisa disebut kata ulang.
Ciri khusus reduplikasi.
Selalu memiliki bentuk dasar dan bentuk dasar kata ulang selalu ada dalam pemakaian bahasa. Maksud ”dalam pemakaian bahasa” adalah dapat dipakai dalam konteks kalimat dan ada dalam kenyataan berbahasa.
Ada hubungan semantis atau hubungan makna antara kata ulang dengan bentuk dasar. Arti bentuk dasar kata ulang selalu berhubungan dengan arti kata ulangnya. Ciri ini sebenarnya untuk menjawab persoalan bentuk kata yang secara fonemis berulang, tetapi bukan merupakan hasil proses pengulangan.
Contoh:
Bentuk alun bukan merupakan bentuk dasar dari kata alun-alun.
Pengulangan pada umumnya tidak mengubah golongan kata atau kelas kata. Apabila suatu kata ulang berkelas kata benda, bentuk dasarnya pun berkelas kata benda. Begitu juga, apabila kata ulang itu berkelas kata kerja, bentuk dasarnya juga berkelas kata kerja. Lebih jelasnya, jenis kata kata ulang, sama dengan bentuk dasarnya.
Ciri umum reduplikasi sebagai proses pembentukan kata.
Menimbulkan makna gramatis.
Terdiri lebih dari satu morfem (Polimorfemis).
Dari beberapa ciri tersebut, dapat di klasifikasikan beberapa jenis kata ulang. Ada dua jenis kata ulang, yaitu kata ulang murni dan kata ulang semu, sebagaimana berikut:
Kata ulang murni, adalah kata ulang yang masih dapat dipisah menjadi bentuk yang lebih kecil dan mempunyai bentuk dasar. berdasarkan bentuk proses pengulangannya,ada tiga macam kata ulang murni, yaitu:
Kata ulang utuh, adalah kata ulang yang diulang secara utuh.
Contoh: gedung + { R } = gedung-gedung.
Kata ulang sebagian, adalah kata ulang yang pada proses pengulangannya hanya sebagian dari bentuk dasar saja yang diulang.
Contoh: berjalan + { R } = berjalan-jalan
Kata ulang berimbuhan, adalah kata ulang yang mendapatkan imbuhan atau kata ulang yang telah diberi afiks. Baik itu prefiks, infiks maupun sufiks.
Contoh: mobil + { R } = mobil-mobil + an = mobil-mobilan.
Kata ulang berubah bunyi, adalah kata ulang yangberubah bunyi dari bentuk dasarnya setelah terjadinya proses pengulangan.
Contoh: sayur + { R } = sayur-mayur
Kata ulang semu, sebenarnya bukan kata ulang tetapi menyerupai kata ulang karena bentuk dasarnya sudah seperti itu.
Contoh: mondar-mandir, compang-camping, onde-onde.

BAB 2
PEMBAHASAN

Bab ini membahas pengertian lagu daerah, klasifikasi data, dan proses afiksasi dan reduplikasi bahasa Jawa dalam lagu daerah Jawa Tengah. Pada subbab klasifikasi data dipaparkan pengelompokkan kata berafiks dan bereduplikasi berdasarkan proses dari data yang telah dianalisis. Pada subbab proses afiksasi dan reduplikasi dijelaskan berlangsungnya proses afiksasi dan reduplikasi dalam pembentukan kata.

2.1 Lagu Daerah
Lagu daerah adalah lagu atau musik yang berasal dari suatu daerah tertentu dan menjadi populer dinyanyikan baik oleh rakyat daerah tersebut maupun rakyat lainnya. Bentuk lagu ini sangat sederhana dan menggunakan bahasa daerah atau bahasa setempat. Lagu daerah banyak yang bertemakan kehidupan sehari-hari sehingga mudah untuk dipahami dan mudah diterima dalam berbagai kegiatan rakyat.  Pada umumnya pencipta lagu daerah ini tidak diketahui lagi alias noname (NN).

Menurut sifat dan keberasalannya lagu daerah dibedakan menjadi dua. Lagu rakyat dan Lagu klasik. Lagu rakyat yaitu lagu yang berasal dari rakyat di suatu daerah. Lagu rakyat tersebar secara alami yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Contoh lagu rakyat yaitu lagu yang dipakai untuk pernikahan, kematian, berladang, berlayar, menenun, dsb.

Lagu klasik yaitu lagu yang dikembangkan di pusat-pusat pemerintahan rakyat lama seperti ibikota kerajaan atau kesultanan. Lagu klasik dinilai lebih agung dibandingkan lagu rakyat saat pembawaannya. Ini disebabkan karena lagu klasik memiliki fungsi yang lain, yaitu diterapkan pada upacara-upacara adat kerajaan.

Fungsi lagu daerah banyak sekali. Diantaranya..
1. Upacara Adat.
Di Sumba sebagai pengiring roh dalam upacara Merapu dan musik angklung dalam upacara Seren Taun (panen padi) di Sunda.
2. Pengiring tari dan pertunjukan
Lagu lagu langgam yang dipadu dengan gamelan di jawa dipakai untuk mengiringi pementasan tari Serimpi di jawa tengah. Bisa juga dipakai unuk pertunjukan wayang kulit, kethoprak, ludruk, drama dsb.
3. Media Bermain
Contohnya cublak cublak suweng dari Jawa Tengah, ampar ampar pisang di Kalimantan Selatan, dan pok ame ame dari Betawi.
4. Sebagai media komunikasi
Pertunjukan musik atau lagu di suatu tempat dapat dipakai media komunikasi secara tidak langsung yang ditandakan dengan banyaknya orang yang melihat pertunjukan.
5. Sebagai media penerangan
Kini lagu dalam aneka iklan layanan masyarakat maupun lagu populer dipakai sebagai media penerangan. Contohnya lagu tentang pemilu, imunisasi, juga lagu bernafaskan agama menjalankan fungsi ini.

Contoh lagu – lagu daerah nusantara sangat banyak sekali. Sesuai daerahnya masing masing, mengingat Indonesia memiliki banyak daerah sehingga banyak kebudayaan yang timbul di setiap-setiap daerah tadi. Mulai dari Sabang sampai Merauke, pulau Miangas sampai pulau Rote. Berikut beberapa contoh lagu daerah dari Jawa Tengah yang dibahas dalam makalah ini.
Lagu dari daerah Jawa Tengah
  1. Gek kepriye
  2. Gambang Suling
  3. Gundhul Pacul
  4. Lir-ilir
  5. Bapak Pucung

Data yang diperoleh
1. Gek Kepriye
Duh kaya ngene rasane
Anake wong ora duwe
Ngalor ngidul tansah digowo
Karo kanca-kancane
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe
Besuk kapan aku bisa
Urip kang luwih mulya
Melu nyunjung drajating bangsa
Indonesia kang mulya
Pye pye pye pye mbuh ra weruh
Pye pye pye pye mbuh ra ngerti
Pye pye pye pye mbuh ra weruh
Pye pye pye pye mbuh ra ngerti

2. Gambang Suling
Gambang suling, ngumandhang suarané
thulat-thulit, kepénak uniné
uuuuniné mung
nreyuhaké ba-
reng lan kentrung ke-
tipung suling, sigrak kendhangané

3. Gundhul pacul

gundhul-gundhul pacul-cul
gembelengan
nyunggi-nyunggi wakul-kul
kelelengan
wakul ngglimpang segane dadi sak latar
wakul ngglimpang segane dadi sak latar
4. Lir-ilir
Lir-ilir lir-ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suraka disurak hiyo
5. Bapak Pucung
Bapak Pucung dudu watu dudu gunung
Sangkane ing sebrang
'ngon-ingone sang Bupati
Bapak Pucung yen m'laku lembehan grana

2.2 Klasifikasi Data
Dalam data yang diambil dari lagu daerah Jawa Tengah yang berjudul “Gek Kepriye” ditemukan 3 kata berafiks dan 1 kata bereduplikasi. Kata-kata tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
            Kata berafiks: digowo, nyunjung, anake
            Kata bereduplikasi: kanca-kancane

Dari lagu yang berjudul “Gambang Suling” ditemukan 4 kata berafiks dan 1 kata bereduplikasi. Kata-kata tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
            Kata berafiks: ngumandhang, suarane, unine, kendangane
            Kata bereduplikasi: thulat-thulit

Dari lagu yang berjudul “Gundhul Pacul” ditemukan 1 kata berafiks dan 2 kata bereduplikasi. Kata-kata tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
            Kata berafiks: segane
            Kata bereduplikasi: pacul-cul, wakul-kul

Dari lagu yang berjudul “Lir-ilir” ditemukan 3 kata berafiks dan 1 kata bereduplikasi. Kata-kata tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
            Kata berafiks: disurak, rembulane, kalangane
            Kata bereduplikasi: lir-ilir

Dari lagu yang berjudul “Bapak Pucung” ditemukan 1 kata berafiks dan 1 kata bereduplikasi. Kata-kata tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
            Kata berafiks: sangkane
            Kata bereduplikasi: ngon-ingone

Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa ada proses infleksi, derivasi, dan  reduplikasi. Seperti yang dijelaskan oleh (Bauer, 1988:12-13) derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru, sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. Dan reduplikasi proses pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. (Ramlan,1985:57).

2.3 Proses Afiksasi
2.3.1 AFIKSASI
Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan mengimbuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks.

a)  Infleksi
Infleksi, yaitu proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama.
Infleksi dapat dilihat misalnya pada pembentukan kata digowo dalam lagu Gek Kepriye yang berasal dari leksem gowo. Setelah leksem gowo ditambah dengan prefiks di-, maka terbentuk kata digowo yang kategori gramatikalnya masih sama dengan kategori gramatikal dari leksem gowo yaitu kategori verbal.

b) Derivasi
Derivasi, yaitu proses morfologis yang menghasilkan morfem baru.
Derivasi dapat dilihat misalnya pada pembentukan kata nyunjung dalam lagu Gek Kepriye yang berasal dari leksem junjung. Leksem junjung termasuk dalam kategori nominal. Setelah mendapat tambahan prefiks n-, leksem junjung menjadi kata nyunjung yang termasuk dalam kategori verbal.
Derivasi dapat dilihat misalnya pada pembentukan kata ngumandhang dalam lagu Gambang Suling yang berasal dari leksem kumandhang. Leksem kumandhang termasuk dalam kategori nominal. Setelah mendapat tambahan prefiks n-, leksem kumandhang menjadi kata ngumandhang yang termasuk dalam kategori verbal.
\
2.3.2 JENIS AFIKS

a) Prefiks
Prefiks, yaitu suatu afiks yang dilekatkan sebelum akar kata, stem atau kata dasar.
1. Prefiks di- dalam pembentukan kata “digowo” dalam lagu Gek Kepriye berasal dari leksem gowo, mendapat afiks di-. Sehingga terbentuk kata digowo.
2. Prefiks n- dalam pembentukan kata “nyunjung” dalam lagu Gek Kpriye berasal dari leksem junjung, mendapat afiks n-. Sehingga terbentuk kata nyunjung.
3. Prefiks di- dalam pembentukan kata “disurak” dalam lagu Lir-ilir berasal dari leksem surak, mendapat afiks di-. Sehingga terbentuk kata disurak.

b) Sufiks
Sufiks, yaitu suatu afiks yang dilekatkan setelah akar kata, stem atau kata dasar.
1. Sufiks -e dalam pembentukan kata “anake” dalam lagu Gek Kepriye berasal dari leksem anak, mendapat afiks -e. Sehingga terbentuk kata anake.
2. Sufiks -ne dalam pembentukan kata “suarane” dalam lagu Gambang Suling berasal dari leksem suara, mendapat afiks -ne. Sehingga terbentuk kata suarane.
3. Sufiks -ne dalam pembentukan kata “sangkane” dalam lagu
Sangkane Bapak Pucung berasal dari leksem sangka, mendapat afiks -ne. Sehingga terbentuk kata sangkane.
4. Sufiks -ne dalam pembentukan kata “unine” dalam lagu Gambang Suling berasal dari leksem uni, mendapat afiks -ne. Sehingga terbentuk kata unine.
5. Sufiks -e dalam pembentukan kata “rembulane” dalam lagu Lir-ilir berasal dari leksem rembulan, mendapat afiks -e. Sehingga terbentuk kata rembulane.
6. Sufiks -e dalam pembentukan kata “kendhangane” dalam lagu Gambang Suling dari leksem kendhangan, mendapat afiks -e. Sehingga terbentuk kata kendhangane.
7. Sufiks -ne dalam pembentukan kata “segane” dalam lagu Gundhul Pacul dari leksem sega, mendapat afiks -ne. Sehingga terbentuk kata segane.
8. Sufiks -e dalam pembentukan kata “kalangane” dalam lagu Lir-ilir dari leksem kalangan, mendapat afiks -e. Sehingga terbentuk kata kalangane.

2.4 Proses Reduplikasi
2.3.1 REDUPLIKASI
Reduplikasi, yaitu pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak.

a) Proses Reduplikasi Leksem Tunggal
Reduplikasi leksem tunggal adalah pengulangan yang terjadi pada leksem tunggal. Pada proses itu terjadi pengulangan penuh terhadap leksem. Di bawah ini adalah contoh terjadinya reduplikasi terhadap leksem tunggal dalam lagu Lir-ilir dan Gundhul Pacul.
1. Dalam pembentukan kata “royo-royo” dalam lagu Lir-ilir dari  leksem tunggal, “royo” menjadi kata berulang royo-royo. Leksem “royo” mengalami proses reduplikasi sekaligus digramatikalisasi sehingga masuk ke dalam tataran morfologi menjadi kata bereduplikasi royo-royo.
2. Dalam pembentukan kata “nyunggi-nyunggi” dalam lagu Gundhul Pacul dari  leksem tunggal, “nyunggi” menjadi kata berulang nyunggi-nyunggi. Leksem “nyunggi” mengalami proses reduplikasi sekaligus digramatikalisasi sehingga masuk ke dalam tataran morfologi menjadi kata bereduplikasi nyunggi-nyunggi.
3. Dalam pembentukan kata “gundhul-gundhul” dalam lagu Gundhul Pacul dari  leksem tunggal, “gundhul” menjadi kata berulang gundhul-gundhul. Leksem “gundhul” mengalami proses reduplikasi sekaligus digramatikalisasi sehingga masuk ke dalam tataran morfologi menjadi kata bereduplikasi gundhul-gundhul.

b)Proses Reduplikasi Berafiks
Reduplikasi berafiks adalah pengulangan leksem tunggal yang kemudian dilanjutkan dengan afiksasi. Jadi, pada proses reduplikasi berafiks ada dua proses morfologis yang terjadi, yaitu reduplikasi dan afiksasi. Di bawah ini adalah contoh terjadinya reduplikasi berafiks dalam lagu Gek Kepriye, Gambang Suling, dan Lir-Ilir.
1. Dalam pembentukan kata “kanca-kancane” dalam lagu Gek Kepriye dari leksem, “kanca” mengalami dua proses morfologis, yaitu reduplikasi dan afiksasi. Proses pertama adalah reduplikasi. Leksem tunggal “kanca” mengalami reduplikasi sekaligus digramatikalisasikan sehingga masuk ke dalam tataran morfologi menjadi kata bereduplikasi kanca-kanca. Proses kedua adalah afiksasi. Dalam proses afiksasi, kata bereduplikasi kanca-kanca dileksikalisasikan menjadi leksem sekunder kanca-kanca terlebih dahulu. Selanjutnya leksem sekunder tersebut mengalami afiksasi dengan afiks -ne. Setelah mendapat tambahan sufiks -ne, hasil afiksasi tersebut selanjutnya digramatikalisasikan kembali sehingga muncullah kata reduplikasi berafiks kanca-kancane.
2. Dalam pembentukan kata “lir-ilir” dalam lagu Lir-ilir dari leksem, “lir” mengalami dua proses morfologis, yaitu reduplikasi dan afiksasi. Proses pertama adalah reduplikasi. Leksem tunggal “lir” mengalami reduplikasi sekaligus digramatikalisasikan sehingga masuk ke dalam tataran morfologi menjadi kata bereduplikasi lir-lir. Proses kedua adalah afiksasi. Dalam proses afiksasi, kata bereduplikasi lir-lir dileksikalisasikan menjadi leksem sekunder lir-lir terlebih dahulu. Selanjutnya leksem sekunder tersebut mengalami afiksasi dengan afiks -i. Setelah mendapat tambahan prefiks i-, hasil afiksasi tersebut selanjutnya digramatikalisasikan kembali sehingga muncullah kata reduplikasi berafiks lir-ilir.
3. Dalam pembentukan kata “ngon-ingone” dalam lagu Bapak Pucung dari leksem, “ngon” mengalami dua proses morfologis, yaitu reduplikasi dan afiksasi. Proses pertama adalah reduplikasi. Leksem tunggal “ngon” mengalami reduplikasi sekaligus digramatikalisasikan sehingga masuk ke dalam tataran morfologi menjadi kata bereduplikasi ngon-ngon. Proses kedua adalah afiksasi. Dalam proses afiksasi, kata bereduplikasi lir-lir dileksikalisasikan menjadi leksem sekunder ngon-ngon terlebih dahulu. Selanjutnya leksem sekunder tersebut mengalami afiksasi dengan afiks i- dan -ne. Setelah mendapat tambahan prefiks i-, dan sufiks -ne, hasil afiksasi tersebut selanjutnya digramatikalisasikan kembali sehingga muncullah kata reduplikasi berafiks ngon-ingone.

c) Kata Ulang Semu
Kata ulang semu, sebenarnya bukan kata ulang tetapi menyerupai kata ulang karena bentuk dasarnya sudah seperti itu.
Contoh kata ulang semu dalam lagu Gambang Suling: thulat-thulit.



d) Kata Ulang Sebagian
Kata ulang sebagian, adalah kata ulang yang pada proses pengulangannya hanya sebagian dari bentuk dasar saja yang diulang.
Contoh kata ulang sebagian dalam lagu Gundhul Pacul: pacul-cul, wakul-kul.



















BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa ada jenis afiks yang ditemukan dalam bahasa Jawa dalam Lagu daerah Jawa Tengah yaitu
a) prefiks
b) sufiks

Selain itu, ada dua proses afiksasi bahasa Jawa dalam Lagu daerah Jawa Tengah yaitu
a)  infleksi
b) derivasi.
Proses derivasi sebagian besar terjadi pada pembentukan kata baru berkategori nominal dari leksem verbal.
Yang termasuk dalam afiks infleksional adalah prefiks di-; sufiks -e. Sedangkan yang termasuk dalam afiks derivasional adalah prefiks n-; sufiks -ne.

Dan ada proses reduplikasi bahasa Jawa dalam Lagu daerah Jawa Tengah yaitu
a) reduplikasi leksem tunggal
b) reduplikasi berafiks
c) kata ulang semu
d) kata ulang sebagian
DAFTAR PUSTAKA
Bauer, Laurie. 1988. Introducing Linguistic Morphology. GreatBritain: Edinburgh University Press.
Fromkin, Victoria dan Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (Edisi ke-6). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.
Haspelmath, Martin. 2002. Understanding Morphology. New York: Oxford University Press Inc.
Katamba, Francis. 1994. Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press Ltd.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama.
____________________. 2009. Pembentukan Kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama.
Matthews, P.H. 1974. Morphology: An Introduction to the Theory of Word Structure. London: Cambridge University Press.
Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia, Morfologi: Suatu Tijauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.
Poedjosoedarmo, Soepomo dkk,. 1979. Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Simpen, Wayan. 2009. Morfologi: Sebuah Pengantar Ringan. Denpasar: Udayana University Press.
ir-ilir.htm#ixzz1fqWgJWNn


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar